Kamis, 29 Juli 2010

Medali dari Tuhan


Sebuah pencapaian yg luar biasa ketika bocah yg dulu bersepeda ke Madrasahnya selama 6 tahun itu, bocah yg jarang memperoleh harapannya itu, bocah yg setiap sore harus menyusur angin laut hanya untuk mencari makan itu, bocah yg ,,,,,-(ah tak kuat aku menyebutnya, sudah lah, itu dulu)-, sekarang berdiri tegap didepan ribuan mata, dengan pandangan berkaca si bocah menundukkan kepala karena detik itu bocah pesisir ini mendapat medali pertamanya. walaupun sekedar medali perunggu, namun itu tak ada sebanding ketika dia harus melihat ke belakang, saat-saat pekat dalam masanya, dulu sewaktu kecil, masa kecil-KU tepatnya.

Tak tanggung2, medali perunggu ini di sematkan langsung oleh Dirjen DIKTI, ah,,,,,apalagi yg bisa di ingkari ketika nikmat seperti ini menderu menyatu dalam satu malam.
Tuhan,,,,terimaksih pertama ku persembahkan kepadaMu,Alhamdulillah,,,l
a haula wa la quata illa billah,,,,, "bapak ibu,,,matur sembah nuwun kagem sedoyo doanipun" bapak ibu dosen yg telah membimbing selama proses ini temen2 yg tak mungkin disebut namanya perkata, makasi buat kalian dan special thanks to :Mas syam, mas yudi, mas yusuf, anton, endah, khusnul, retno serta seluruh supporting staff Masruum Burger (bersama kalian aku belajar menempa diri, menjadi manusia yg lebih berarti, aminn) satu hal penting yg bisa dicerna dgn indah adalah saat kita berhasil mencapai sesuatu dgn tulus dan ikhlas, walau nilainya tak seberapa, tp itu akan jd cerita indah di masa2 nanti. Alhamdulillah,,,,,Alhamdulillah,,,,

Denpasar, 24juli 2010 aku, mishbach

Minggu, 25 Juli 2010

Terima kasih Tuhan,,,,,,


Dunia mulai me-nyenja ketika ku ingat beberapa waktu yg lalu. Saat teman berfikirku tertunduk tertimpa bulan di malam pekat, sama pekatnya dengan fikirku. Sekarang baru tersadar bahawa rel kereta tak pernah di hubungkan dalam semalam, dan karena itulah wajahmu selalu men-dinding tegak, tepat dipojokan tiang penyangga kerajaan hatiku.

perkataan liar terus terceloteh dari beberapa rasa yang belum sempat teralirkan dengan tepat. Dan mungkin karena aliran sungai di samping rumah hijau ini masih membeku sehingga rasaku terus tertunduk oleh cantiknya rembulan diatas pohon akasia ini. Tuhan tidak berbohong bahwa parasmu diciptakan dari tanah pilihan di syurga. Sungguh tak berkata satu Malaikat pun ketika Tuhan meniupkan ruh dalam raga kecilmu.


wahai malam, cukup kusampaikan pada angin bahwa pekatmu pun tak mampu menutup sinar di wajahnya, apalagi mawar di kebun samping, dia hanya menjadi pendamping wanginya kelebatan bayangannya. sulit ku temukan simpul senyum seperti yg terurai dari bibir manis itU. masih lagi, ketika temanku bermasalah, hanya tuturnya yg mampu meredam, seperti sabda pandita ratu yg melapangkan permukaan bumi dgn ruh kedamain kata.


musim ini dan beberapa musim yg lalu telah tahu bahwa kecantikanmu selaras dengan kedamain yg terarah dalam perjalananku. ketika ku sadar bahwa langkahmu telah jauh menyebelahiku, dan nafas kita tergiring bersama angin2 sore, pun saat kakiku di langit atau bahkan saat di bawah tanah, senyummu terus menjejali retina fana' ku.


Tuhan,,,,,terima kasih, Engkau damaikan bumi alamku dengan akhlaknya


25 Juli 2010, dalam hening hati

aku, mishbach

Sabtu, 24 Juli 2010

sopo sing tekun golek "teken" bakal tekan


Berbicara masalah tekun jauh beda dengan "nglokro" alias malas. ketekunan berawal dari kerutinan yg menjiwa disetiap saatnya. Beberapa masalah bisa dipersoal hanya ketika ketekunan tak lagi di biasakan. berangkat dari perspektif ini tekun merupakan sebuah keharusan untuk mencari sebuah teken atau tongkat, tongkat pegangan hidup tentunya. Teken sendiri berasal dari bahasa jawa yang artinya tongkat penegak untuk berjalan. Biasanya teken digunakan oleh orang yg lanjut usia, namun tak selamanya, beberapa anak muda kadang mulai belajar membiasakan ber-teken, nyicil masa tua katanya,,,hahaha statemen ngawur. Dalam konteks piwulang dan pasemon atau ajaran moral simbolik, kata teken berarti pedoman, petunjuk dan tuntunan hidup. Dapat juga berarti sebagai alat yang digunakan untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu orang yang menginginkan teken harus tekun.

Kosa kata tekan muncul dari logat jawa kental yg sering men-desa. beberapa istilah aneh kadang mempunyai makna yg menelisik. Begitu juga dengan tekan,Tekan berarti kesampaian. Tekun, teken dan tekan merupakan deretan kata berjenjang. Siapa yang mau tekun, maka ia akan mendapatkan teken dan ia akan segera tekan atau kesampaian apa yang menjadi impiannya. Proses yg panjang harus dilalui setiap orang agar bisa sampai dalam tahap itu. Kadang, bahkan hampir selalu, jalan-jalan ini tak lurus dan halus, banyak kelokan tajam dan kerikil mengasah.

Dimulai saja dari tekun. Untuk istiqomah di tekun saja harus nafas senin kamis, belum lagi ketika dapat teken, tanggung jawab semakin besar. Namun teken ini merupakan pencitraan mata bantuan ketika ketajaman indera hati pekat. Banyak guna yg bisa di cerna ketika teken dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Perjalanan yg telah diawali dengan tekun dan disertai bantuan teken, insyallah akan tekan atau berhasil. Semua saat ada kalanya, begitu juga dengan keberhasilan yg kita rencanakan. Tak selamanya juga teken akan mampu menopang perjalanan, butuh inovasi disana. Dan mungkin itu yang sedang teralami, olehku (mungkin).

Sabtu, 17 Juli 2010

kata-kata Ku


kataku tak berarti, kataku tak dimengerti
aksaraku berbicara, aksaraku terbata-bata
koma ku menjeda, koma ku menghela
dan titik ku menghabis, titik ku menangis

pegal ini tak terbahasa, ketika kau tawarkan lencana
tp pegal ku terbahasa ketika kau tau ini saatnya,
saat -saat kita harus menghela nafas bersama
dan bertemu dalam pejam mata
ketika senyap dalam dekap genggaman kita

kau mutiara, tp kau disana
hanya dengan jidat mengkilat yg di sujud
mutiara ada di mata
tp lagi, kau tetap kau
dan aku selalu menjadi aku

cantik,,,,,ku tunggu kau dalam pejam
hanya ketika kau tersenyum dan mendekap
seperti saat itu
saat kita terpejam bersama
dalam malam yg sama pastinya

jogja, 18 Juli 2010
aku, yg memikir kamu

Selasa, 13 Juli 2010

Negara tanpa koma


Sebenarnya sederhana, asal tidak diberi tanda baca negara koma lebih berasa untuk dicerna. Sebuah peradaban yang memang menjadi warisan dari pencipta alfabet, sulit juga mengejanya. Sebuah koma (saja) bisa menghentikan keterfokusan pembaca dalam ini negara, tak penat para penikmat aksara melafadz berulang sekedar untuk menelaah maknanya. Sulit dan memang sulit tanpa dasar yg mem-barengi.

Berbicara masalah koma, kita dekat sekali dengan tanda jeda. Sebuah penghenti lafadz untuk (mungkin) melanjutkan lafadz berikutnya. Kalau di analogikan dalam kitab suci (agama saya), koma mungkin sebuah tanda kecil yang membantu kita untuk menghela nafas dan kemudian kembali melantunkan makhraj-makhraj nya setelah mampu.

Tidak beda dalam negara koma ini, semua juga di jeda, dan pembacaan dengan titik terkadang menjadi tabu. Dalam perspektif yang lain, tapi hampir serupa, titik menjadi penutup kata dan ternyata sama-sama berfungsi untuk menyela. Sebuah pesan tanya dari pembaca, akankah koma dan titik ber-reinkarnasi menjadi tanda wasilah yang bertugas melanjutkan sebuah penjelasan??? tentunya "akan" ketika negara koma berubah menjadi TANPA.

14 Juli 2010
dalam negara koma, aku, pembaca yg setia

Jumat, 09 Juli 2010

hanya pisang goreng, tak coklat kej

coklat keju pagi ini berubah menjadi sepotong pisang goreng yg harganya tak lebih mahal dari makanan termurah apapun.

tp tak apa, pisang goreng ini mampu membungkam kelaparan harap tiap masanya. sedikit menyoal ttg rasa, bahwa pisang goreng lebih berasa dr sekedar coklat keju, ah,,,,,kamuflase

lagi, ketika ini terjadi, waktu hanya selalu bisa merubahnya menjadi bentuk lain yg lebih sederhana, bahkan dari pisang goreng, atau pun coklat keju


pagi yg mendung.10 juli 2010